« Cerita Lucu | Main | Peraturan Baru Masuk Surga »

Terorisme alias Teroriseng

Terorisme alias Teroriseng

BERITA tentang teror, teroris, atau terorisme sudah sejak lama berkumandang di gendang telinga kita. Seperti ramalan Ki Gendang Pamungkas. Hehehe...!

Berita-berita soal itu selalu berkaitan dengan peristiwa peledakan bom di berbagai wilayah di Tanah Air, mulai dari bom di Bali, Hotel JW Marriot (tapi bukannya Mak Erot, lho!), sampai Kedutaan Besar Australia di Jakarta. Dengan kata lain di mana ada bom, di situ ada teroris. Kabar terbaru tentang teroris muncul di Yogyakarta, tepatnya di wilayah Jalan Ring Road Utara Maguwoharjo, Depok, Sleman.

Tidak ada angin, tidak ada hujan, tahu-tahu Tim Densus 88 Mabes Polri menggerebek wilayah itu. Terdengar beberapa suara tembakan dan 1 orang tewas, 1 luka-luka dan 3 orang lain ditahan. Tuh kan?!

Namun sejak dua bulan lalu, berita yang santer terdengar adalah banyaknya ancaman bom di berbagai tempat di Jakarta, mulai dari mall hingga kedutaan besar AS. Ancaman itu disebar lewat SMS. Nomor yang dituju pun tidak tanggung-tanggung, yakni nomor 1717 milik Traffic Management Center (TMC) Polda Metro Jaya yang sesungguhnya disediakan untuk menampung keluhan dari masyarakat mengenai kinerja anggota Polri klinik. Hehehe!

Sepintas memang tidak ada yang aneh dari pola teror semacam itu. Apalagi sepak pola termasuk salah satu olahraga yang paling digemari oleh masyarakat kita. Nyatanya sejak teror bom mengguncang Bali beberapa tahun lalu, hubungan antara bom dan HP atau ponsel sangat intim. Detonator yang digunakan untuk meledakkan bom selalu terhubung ke ponsel.

Jadi, memang tidak aneh kalau teror di Tanah Air selalu berhubungan dengan HP sehingga sering membuat HP yang luka- eh Hati yang Luka - ding..he-eh! Hanya saja, ketika para pemilik nomor ponsel yang digunakan untuk mengirim SMS itu ditangkap, muncul keanehan.

Pengirim SMS teror terhadap Mal Artha Gading, ternyata seorang mahasiswi yang tinggal di daerah Brebes. Padahal biasanya di Brebes lebih banyak orang mengirim teror asin (telor asin), sehingga kalau terjadi teror bisa bikin Brebes Mili alias menangis.

Pengancam bom di Bank Indonesia ternyata seorang petani gabah yang tinggal di Bojonegoro Jawa Timur. Sedangkan pengancam bom di Monas ternyata seorang bocah lelaki berusia 10 tahun. Nah, lo?!

Ketika ditelusuri atawa disidik, ternyata semua bermuara pada satu kata yakni "iseng". Mahasiswi yang mengancam Mal Artha Gading ternyata sudah sejak lama menyimpan SMS yang dibuatnya itu. Namun kemudian iseng-iseng dikirimkan ke nomor 1717. Sedangkan petani gabah yang dengan ge-gabah berbuat iseng malah tidak tahu sama sekali di mana lokasi BI yang diancamnya. Ia hanya tahu ada nomor 1717 dari media massa.

Kalau sudah begini, teror memang seperti sekadar jadi mainan. Teror tidak lagi sesuatu yang menakutkan. Malah mungkin bisa jadi teror-toar yang biasa dilalui oleh banyak orang dan sering pula menjadi pangkalan martabak teror yang disukai oleh banyak orang. Karena kebanyakan teror dilakukan lewat SMS, pelakunya pun perlu dimasukkan ke penjara SMS, yakni Super Maximum Security. Lebih dari itu, SMS pun artinya bukan lagi Short Message Service melainkan bisa bergeser maknanya jadi Suh Mi Suh! Hehehe...(60)

- Ucup Kelik Pelipur Lara

www.suaramerdeka.com

                            

Comments

Post a comment

Post a comment

Name:

You are currently signed in as .